PEMBELAJARAN BERBASIS WEB (E-LEARNING)
1. Konsep
Pembelajaran Berbasis WEB
Pembelajaran berbasis web merupakan suatu kegiatan
pembelajaran yang memanfaatkan media situs (website)
yang bisa diakses melalui jaringan internet. Pembelajaran berbasis web atau
yang dikenal juga dengan "web based
learning" merupakan salah satu jenis penerapan dari pembelajaran
elektronik (e-learning). Definisi
tersebut menyatakan bahwa e-learning merupakan proses dan kegiatan penerapan
pembelajaran berbasis web (web-based
learning), pembelajaran berbasis komputer (computer based learning), kelas virtual (virtual classrooms), dan atau kelas digital (digital classrooms). Materi-materi dalam kegiatan pembelajaran
elektronik tersebut kebanyakan dihantarkan melalui media internet, intranet,
tape video atau audio, penyiaran melalui satelit, televisi interaktif serta
CD-Rom. Definisi ini juga menyatakan bahwa definisi dari e-learning itu bisa
bervariasi tergantung dari penyelanggara kegiatan e-learning tersebut dan bagaimana cara penggunaannya, termasuk juga
apa tujuan penggunaannya. Definisi ini juga menyiratkan simpulan yang
menyatakan bahwa e-leraning pada dasarnya adalah pengaplikasian kegiatan
komunikasi pendidikan dan pelatihan secara elektronik.
2.
Prinsip-prinsip
pembelajaran berbasis Web
Pembelajaran berbasis web dibangun melalui beberapa
prinsip yang berperan dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran ini
pada tahap implementasi. Hal yang membuat pembelajaran berbasis web ini efektif
pada dasarnya bergantung pada pandangan dari pemegang kepentingan. Oleh
karenanya sangat sulit untuk menentukan prinsip utama yang setidaknya harus ada
dalam pembelajaran berbasis web. Menurut Rusman (2011) prinsip pembelajaran
berbasis web adalah:
a. Interaksi
Interaksi
berarti kapasitas komunikasi dengan orang lain yang tertarik pada topik yang
sama atau menggunakan pembelajaran berbasis web yang sama. Dalam lingkungan
belajar, interaksi berarti kapasitas berbicara baik antar peserta, maupun antara
peserta dengan instruktur. Interaksi membedakan antara pembelajaran berbasis
web dengan pembelajaran berbasis komputer (Computer-Based
Instruction). Hal ini berarti bahwa mereka yang terlibat dalam pembelajaran
berbasis web tidak berkomunikasi dengan mesin, melainkan dengan orang lain
(baik peserta maupun tutor) yang kemungkinan tidak berada pada lokasi bahkan
waktu yang sama. Interaksi tidak hanya menyediakan hubungan antar manusia,
tetapi juga menyediakan keterhubungan isi, di mana setiap orang dapat saling
membantu antara satu dengan yang lainnya untuk memahami isi materi dengan
berkomunikasi. Hal tersebut menciptakan lapisan belajar terdalam yang tidak
bisa diciptakan oleh pengembangan media.
b. Ketergunaan
Ketergunaan
yang dimaksud di sini adalah bagaimana siswa mudah menggunakan web. Terdapat
dua elemen penting dalam prinsip keter¬gunaan ini, yaitu konsistensi dan
kesederhanaan. Intinya adalah bagaimana pengembang pembelajaran berbasis web
ini menciptakan lingkungan belajar yang konsisten dan sederhana, sehingga siswa
tidak mengalami kesulitan balk dalam proses pembelajaran maupun navigasi konten
(materi dan aktivitas belajar lain).
c. Relevansi
Relevansi
diperoleh melalui ketepatan dan kemudahan. Setiap informasi dalam web hendaknya
dibuat sangat spesifik untuk meningkat¬kan pemahaman pembelajar dan menghindari
bias. Menempatkan konten yang relevan dalam konteks yang tepat pada waktu yang
tepat adalah bentuk seni tersendiri, dan sedikit pengembangan e-learning yang
berhasil melakukan kombinasi ini. Hal ini melibatkan aspek keefektifan desain
konten serta kedinamisan pencarian dan penempatan konten (materi).
3.
Konsep
Blended Learning
Konsep Blended Learning ini ialah pencampuran model
pembelajaran konvensional dengan belajar secara online. Blended Learning berasal
dari kata “Blended” dan “Learning”. Blend artinya campuran dan Learning artinya
belajar. Dari kedua unsur kata tersebut dapat diketahui bahwa Blended Learning
penyampuran pola belajar. Menurut Mosa (dalam Rusman, 2011:242) menyampaikan
bahwa pola belajar yang dicampurkan adalah dua unsur utama yakni pembelajaran dikelas
dengan online learning. Dalam pembelajaran online ini terdapat pembelajaran
menggunakan jaringan internet yang didalamnya ada pembelajaran berbasis web.
Blended Learning ini
terdapat perpaduan dari : teknologi multimedia, CD-ROM, video
streaming, kelas virtual, e-mail, voicemail dan lain-lain dengan
bentuk tradisional pelatihan di kelas dan pelatihan setiap apa yang
dibutuhkannya. Blended Learning menjadi solusi yang paling tepat
untuk proses pembelajaran yang sesuai, tidak hanya dengan kebutuhan
pembelajaran akan tetapi gaya pembelajar. Selain Blended Learning ada
istilah lain yang sering digunakan di antaranya adalah Blended
Learning dan Hybrid Learning. Istilah tersebut mengandung arti yang sama
yaitu perpaduan, percampuran atau kombinasi dalam pembelajaran. Intinya
penggabungan atau percampuran dua pendekatan pembelajaran yang
digunakan sehingga tercipta pola pembelajaran baru dan tidak akan menimbulkan
rasa bosan pada pererta didik.
Blended learning adalah sebuah kemudahan
pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran,
dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara
fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran. Blended learning juga
sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran
online, tapi lebih daripada itu sebagai elemen dari interaksi sosial.
4.
Karakteristik
Blended Learning
Penerapan blended learning tidak terjadi begitu
saja. Tapi, terlebih dulu harus ada pertimbangan karakteristik tujuan
pembelajaran yang ingin kita capai, aktifitas pembelajaran yang relevan serta
memilih dan menentukan aktifitas mana yang relevan dengan konvensional dan
aktifitas mana yang relevan untuk online learning.
a. Pembelajaran
yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, gaya
pembelajaran, serta berbagai media berbasis teknologi yang beragam.
Penggabungan
model pembelajaran konvensional dengan belajar secara online bukanlah hal yang
baru, dan pelengkap pembelajaran konvensional adalah e-learning. E-learning
merupakan metode pembelajaran yang berfungsi sebagai pelengkap metode
pembelajaran konvensional dan memberikan lebih banyak pengalaman afektif bagi
pelajar. Perbedaan pembelajaran konvensional atau e-learning yaitu pada
pembelajaran konvensional guru dianggap sebagai orang yang serba tahu dan
ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada pelajaranya. Sedangkan
didalam e-learning fokus utamanya adalah pelajar. Pelajar mandiri pada waktu
tertentu dan bertanggung jawab untuk pembelajarannya.
b. Sebagai
sebuah kombinasi pengajaran langsung (face
to face), belajar mandiri, dan belajar mandiri via online.
Pembelajaran blended dapat menggabungkan
pembelajaran tatap muka (face-to-face) dengan pembelajaran berbasis komputer.
Artinya, pembelajaran dengan pendekatan teknologi pembelajaran dengan kombinasi
sumber-sumber belajar tatap muka dengan pengajar maupun yang dimuat dalam media
komputer, telpon seluler atau iPhone, saluran televisi satelit, konferensi
video, dan media elektronik lainnya. Pebelajar dan pengajar/fasilitator bekerja
sama untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Tujuan utama pembelajaran
blended adalah memberikan kesempatan bagi berbagai karakteristik pebelajar agar
terjadi belajar mandiri, berkelanjutan, dan berkembang sepanjang hayat,
sehingga belajar akan menjadi lebih efektif, lebih efisien, dan lebih menarik.
c. Pembelajaran
yang didukung oleh kombinasi efektif dari cara penyampaian, cara mengajar
dan gaya pembelajaran.
Blended
learning dapat membuat peserta didik lebih termotivasi untuk melakukan
pembelajaran mandiri. Hal ini terlihat dari banyaknya peserta didik yang online
dalam pembelajaran. Disini juga peserta didik bertanya dalam suatu forum
diskusi dengan guru maupun dengan peserta didik lain. Selain forum diskusi
peserta didik menggunakan media sebagai wahana untuk bertanya bertukar
informasi dengan peserta didik lain.
d. Guru
dan orangtua pembelajar memiliki peran yang sama penting, guru sebagai
fasilitator, dan orangtua sebagai pendukung.
blended learning merupakan pilihan
terbaik untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan daya tarik yang lebih
besar dalam berinteraksi antar manusia dalam lingkungan belajar yang beragam.
Dan juga memberikan fasilitasi belajar yang sangat sensitif terhadap segala
perbedaan karakteristik pskiologis maupun lingkungan belajar. Intinya Blended
e-Learning berisi tatap muka, dimana beririsan dengan blended e-learning. pada
blended e-learning terdapat pembelajaran berbasis komputer yang berisikan
dengan pembelajaran online. Dalam pembelajaran online terdapat pembelajaran
berbasis internet yang di dalamnya ada pembelajaran berbasis web. Pembelajaran
dengan menggunakan media berbasis yang populer dengan sebutan Web-Based
Training (WBT) kadang disebut Web-Based Education (WBE) dapat didefinisikan
sebagai aplikasi teknologi web dalam dunia pembelajaran untuk sebuah proses pendidikan.
Suatu hal yang perlu diingat adalah bagaimana teknologi web ini dapat membantu
proses belajar.
Pada blended learning informasi yang di
dapat oleh peserta didik lebih banyak dan dari berbagai sumber. Dengan mendapat
informasi yang lebih mereka mampu menyelesaikan permasalahan, menganalisis,
membandingkan dengan kecukupan informasi yang mereka dapat. Informasi atau
materi yang ada dalam pembelajaran online antara lain dalam bentuk, teks,
gambar, movie, animasi, simulasi, partisi- pasi dalam diskusi, dan mengemukakan
pendapat.
5.
Metode
Blended Learning dalam Pembelajaran
Berbasis Web
Terdapat dua langkah yang harus dilakukkan untuk
menentukan metode Blended Learning pembelajaran berbasis web jenis
apa yang cocok diterapkan dalam suatu kondisi pembelajaran, antara lain :
Langkah pertama adalah menentukan terlebih dahulu
tipe pembelajaran yang akan disampaikan. Analisis kebutuhan dilakukkan pada
langkah ini, untuk menentukan ranah mana yang akan disentuh dalam oleh proses
pembelajaran ini, apakah kognitif, psikomotorik atau afektif. Dalam
pembelajaran berbasis web untuk mengelompokkan tujuan pembelajaran atau
pelatihan sehingga mengembangkan program dapat mengetahui jenis kemampuan
kognitif yang masing-masingnya membutuhkan penyampaian informasi, latihan dan
penilaian yang berbeda.
Langkah kedua dari pemilihan proses pembelajaran,
adalah memilih tipe pembelajaran berbasis web yang paling tepat sesuai dengan
tujuan yang hendak dicapai. Untuk mulai memilih tipe pembelajaran berbasis web
mana yang paling tepat, pertama tentukan ranah pembelajaran yang paling
mempresentasikan tujuan, yaitu kognitif, psikomotor atau afektif (Rusman dkk,
2013).
Dalam pembelajaran berbasis web dapat menggunakan
metode blended Learning. Blanded Learning merupakan kombinasi metode
pembelajaran yang menggabungkan sistem pembelajaran berbasis kelas (face
to face) dan pembelajaran yang berbasis e-learning (Mason dan Frank,
2010). Blended Learning merupakan sebuah kombinasi dari pendekatan di dalam
pembelajaran. Sehingga dapat dinyatakan bahwa blended Learning adalah metode
belajar yang menggabungkan dua atau lebih metode pendekatan dalam pembelajaran
untuk mencapai tujuan dari proses pembelajaran tersebut. Salah satu contohnya
adalah kombinasi pembelajaran berbasis web dan penggunaan metode tatap muka
yang dilakukan secara bersamaan di dalam pembelajaran.
Metode blended Learning memberikan kesempatan bagi
peserta pembelajaran online, salah satunya untuk bertatap muka. Metode ini juga
memberikan rasa keterikatan pembelajar apa yang sedang dipelajarinya. Walaupum
online learning memberikan kemudahan bagi para pelajar untuk mengikuti
pembelajaran di mana saja dan kapan saja, pembelajar, sebagai manusia, tetap
memiliki keinginan untuk berada dalam komunitas (dalam hal ini komunitas
belajar) yang sesungguhnya, dan hal ini dipandang penting dalam pembelajaran.
Selain itu sosok mengajar walau tidak dominan seperti dalam paradigma mengajar,
tetap diperlukan untuk pembinaan perilaku atau sikap yang berorientasi pada
norma masyarakat (Rusman dkk, 2013).
Jadi pembelajaran berbasis web ini sangat cocok
diterapkan dalam dunia pendidikan. Salah satu metode yang dapat diterapkam
dalam pembelajaran berbasis web ini adalah metode blended Learning. Dengan
begitu peserta didik dapat memperoleh informasi yang semakin banyak dan mudah
untuk memahaminya.
6.
Prosedur
Blended Learning dalam Pembelajaran
a. Menetapkan
macam dan materi bahan ajar. Pendidik harus paham betul bahan ajar yang seperti
apa yang relevan diterapkan pada pendidikan jarak jauh (PJJ) yang sebagian
dilakukan secara face to face dan secara online atau web based
learning.
b. Tetapkan
rancangan dari blended learning yang digunakan. Rancangan
pembelajaran harus benar-benar dirancang dengan baik dan serius, dan juga harus
melibatkan ahli e-learning untuk membantu. Hal ini bertujuan agar
rancangan pembelajaran yang dibuat benar-benar relevan dan memudahkan sistem
pembelajaran face to face dan jarak jauh, bukan malah mempersulit
siswa ataupun tenaga kependidikan lainnya dalam penyelenggarakan pendidikan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat rancangan pembelajaran blended
learning adalah (a) bagaimana bahan ajar tersebut disajikan, (b) bahan
ajar mana yang bersifat wajib dipelajari dan mana yang sifatnya anjuran guna memperkaya
pengetahuan, (c) bagaimana siswa bias mengakses dua komponen pembelajaran
tersebu, (d) faktor pendukung apa yang diperlukan, misalnya software apa
yang digunakan, apakah diperlukan kerja kelompok atau individu saja.
c. Tetapkan
format online learning. Apakah bahan ajar tersedia dalam format PDF,
video, juga perlu adanya pemberitahuan hosting apa yang dipakai oleh guru,
apakah Yahoo, Google, Facebook, atau lainnya.
d. Melakukan
uji terhadap rancangan yang dibuat. Uji ini dilakukan agar mengetahui apakah
sistem pembelajaran ini sudah berjalan dengan baik atau belum. Mulai dari
kefektivan dan keefesiensi sangat diperhatikan, apakah justru mempersulit siswa
dan guru atau bahkan benar-benar mempermudah pembelajaran.
e. Menyelenggarakan
blended learning dengan baik. Sebelumnya sudah ada sosialisasi dari guru atau
dosen mengenai system ini. Mulai dari pengenalan tugas masing-masing komponen
pendidikan, cara akses terhadap bahan ajar, dan lain-lain. Guru atau dosen
disini bertugas sebagai petugas promosi, karena yang mengikuti penyelenggaraan
blended learning bias dari pihak sendiri dan bahkan dari pihak lain.
f. Menyiapkan
kriteria untuk melakukan evaluasi. Contoh evaluasi yang dilakukan adalah
dengan (a)Ease to navigate, (b)Content/substance, (c)Layout/format/appearance,
(d)Interest, (e)Applicability, (f)Cost-effectiveness/value.
· Ease to navigate, seberapa mudah siswa
bisa mengakses semua informasi yang disediakan di paket pembelajaran.
Kriterianya, makin mudah melakukan akses, makin baik.
· Content/substance, bagaimana kualitas
isi yang dipakai. Misalnya bagaimana petunjuk mempelajari bahan ajar itu
disiapkan, dan sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran, dan sebagainya.
Kriterianya: makin mendekati isi bahan ajar dengan tujuan pembelajaran adalah
makin baik.
· Layout/format/appearance, paket
pembelajaran (bahan, petunjuk, atau informasi lainnya) disajikan secara
profesional. Kriterianya: makin baik penyajian bahan ajar adalah makin baik.
· Interest, dalam artian sampai seberapa
besar paket pembelajaran yang disajikan mampu menimbulkan daya tarik siswa
untuk belajar. Kriterianya: siswa semakin tertarik belajar adalah makin baik.
· Applicability, seberapa jauh paket
pembelajaran yang bisa dipraktekkan secara mudah. Kriterianya: makin mudah
adalah makin baik.
· Cost-effectiveness/value, seberapa murah
biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti paket pembelajaran tersebut.
Kriterianya: semakin murah semakin baik.
Referensi :
Luqman, H.T &
Dinarin, A.E. (2012). Pengembangan E-Learning. Semarang : C.V Budi
Utma.
Rusman,
dkk.(2011) Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jakarta
:
PT Raja Grafindo Persada.
Isti Tibah Atiroh,
(2014). Jurnal Blended Learning Dalam Pembelajaran.
Lawanto, Oenardi.
2000. “Pembelajaran Berbasis WEB Sebagai Metoda Komplemen
Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan”. Vol.
9, No. 1.
Mason, Rohim dan Frank
Rennie. E-Learning Lengkap Memahami Dunia Digital dan
Internet. Yogyakarta: Pustaka Baca.
Rusman. 2012. “Belajar
dan Pembelajaran Berbasis Komputer”. Bandung: Alfabeta.
Rusman, Deni Kurniawan
dan Cepi Riana. 2013. Pembelajaran berbasis Teknologi Informasi
dan Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers.
Suyono & Hariyanto.
2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Rosda.
Uno, B. Hamzah.
2011. Model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar